Cakupan Imunisasi Rendah, Dinkes NTB Catat 985 Kasus Suspek Campak

MATARAM, Lingkar.news Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 985 kasus suspek campak hingga pekan ketujuh tahun 2026.

Kepala Dinkes NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan seluruh kasus tersebut berasal dari Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.

“Total 985 kasus suspek campak di NTB berasal dari tiga daerah tersebut,” ujarnya di Mataram, Kamis (12/3/2026).

Rendahnya Cakupan Imunisasi Jadi Faktor Utama

Fikri menjelaskan tingginya kasus suspek campak dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) secara lengkap.

Menurutnya, fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan akumulasi populasi rentan terhadap penularan penyakit.

“Cakupan imunisasi yang rendah menjadi faktor risiko utama terjadinya kejadian luar biasa,” katanya.

Kasus Didominasi Anak di Bawah 5 Tahun

Berdasarkan data Dinkes NTB, sebagian besar kasus suspek campak terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Mayoritas dari mereka memiliki status imunisasi tidak lengkap atau bahkan belum pernah mendapatkan imunisasi.

Selain faktor imunisasi, mobilitas penduduk yang tinggi pada akhir dan awal tahun juga dinilai mempercepat penyebaran penyakit tersebut.

Faktor lain seperti keterlambatan deteksi awal, kondisi lingkungan, serta perilaku masyarakat turut berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah kasus.

“Pemerintah terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali,” kata Fikri.

Kenali Gejala dan Cara Penularan Campak

Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus campak Morbillivirus. Virus itu menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin.

Gejala awal campak mirip dengan flu, namun beberapa gejala khas muncul beberapa hari kemudian berupa demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah ruam merah. Gejala campak umumnya mulai dari wajah dan menyebar ke bagian tubuh lain, serta ada titik putih kecil di dalam mulut.

Mobilitas masyarakat yang meningkat dan potensi kerumunan berpotensi memperbesar risiko penularan penyakit menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran 2026.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki