NTB Bantu Rp1 Miliar untuk Gempa NTT, Fokus pada Logistik Darurat

Mataram, Lingkar.news – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menginstruksikan pemanfaatan cadangan pangan pemerintah daerah yang tersimpan di Gudang Bulog Bima untuk membantu korban terdampak gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan ini diambil sebagai langkah respons cepat dalam menyalurkan bantuan logistik.

“Kami pakai cadangan pangan di Bulog Bima, sehingga lebih dekat dengan lokasi daerah terdampak gempa. Kami berkomunikasi dengan Bulog dan sudah mulai disiapkan cadangan beras,” ujar dia usai menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Gempa di Pendopo Gubernur NTB, Mataram, Sabtu (15/8/2026).

Pemanfaatan cadangan beras tersebut menjadi bagian dari langkah cepat NTB dalam menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak gempa mengingat lokasi Bima berbatasan dengan NTT. Selain itu, pengalaman NTB dalam menangani bencana, terutama gempa Lombok 2018, menjadi dasar dalam menentukan jenis bantuan yang akan dikirim.

Selain bahan pangan, Pemerintah Provinsi NTB juga menyiapkan sejumlah peralatan pendukung seperti genset, ekskavator, serta kendaraan operasional gardan ganda untuk membantu penanganan kondisi darurat. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui pelabuhan terdekat yang aman agar distribusi berjalan lebih cepat.

Pemerintah NTB juga menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan nominal sekitar Rp1 miliar guna mendukung upaya kemanusiaan ini. Selain itu, koordinasi intensif dilakukan bersama Baznas, Himpunan Bank Milik Negara, industri jasa keuangan, Pemerintah Provinsi Bali, serta komunitas masyarakat Flobamora NTT di NTB untuk menggalang bantuan dan relawan.

Pemerintah Provinsi NTB menegaskan komitmen solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang kedaerahan demi meringankan beban korban di NTT.

“Kebutuhan yang sangat mendesak untuk bertahan hidup ada pada seminggu pertama. Oleh karena itu, kami sebagai tetangga terdekat ingin hadir lebih dulu daripada yang lain untuk memberikan bantuan kepada mereka (korban terdampak gempa),” kata Iqbal.

“Kami tidak lagi membedakan orang NTB, orang NTT, orang Bali, siapapun yang terdampak di sana menjadi target bantuan yang akan kami berikan,” pungkas dia.

Berdasarkan data BMKG, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA dengan pusat gempa di utara Mbay, Kabupaten Nagekeo. BNPB melaporkan sebanyak 38 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis