Mataram, Lingkar.news – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghambat produktivitas serta pendapatan masyarakat.
Kondisi ini dipicu oleh panjangnya durasi antrean yang menyita waktu pengendara hingga puluhan menit, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat di wilayah mulai dari Kota Mataram hingga Lombok Timur.
“Kalau antre begini yang rugi kami. Waktu banyak habis di SPBU, jadi pas dapat order kami sering telat sampai ke lokasi jemput,” kata Odik, seorang pengemudi ojek daring di Mataram, Kamis (6/8/2026).
Ia menambahkan bahwa dampak antrean tidak hanya soal waktu, tetapi juga berpengaruh langsung pada omzet harian pengemudi karena pelanggan sering membatalkan pesanan akibat waktu tunggu yang terlalu lama.
“Penumpang ada yang mengeluh karena harus menunggu lama, bahkan ada juga yang membatalkan pesanan. Mau tidak mau, pendapatan kami juga ikut berkurang,” ujar Odik.
Keluhan senada disampaikan Hapis, seorang pengendara yang terjebak antrean di SPBU Kota Mataram. Ia menyatakan bahwa situasi ini menyebabkan berbagai aktivitas ekonomi dan pekerjaan masyarakat menjadi terhambat.
Masyarakat berharap pasokan BBM segera stabil agar waktu produktif mereka tidak habis di SPBU dan kegiatan ekonomi kembali berjalan normal. Harapan tersebut disampaikan Hapis agar hambatan aktivitas segera teratasi.
“Mudah-mudahan cepat normal lagi biar tidak antre lama, jadi kami bisa lanjut kerja dan urusan lain juga tidak banyak yang tertunda,” pungkas Hapis.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi NTB melalui Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Samsudin menjelaskan bahwa fenomena antrean yang terjadi di lapangan dipengaruhi oleh pola konsumsi dan karakteristik pengguna di setiap titik SPBU.
“Di sejumlah SPBU di Pulau Lombok, mayoritas konsumen Pertalite memang didominasi oleh kendaraan roda dua, sehingga ketika terjadi peningkatan permintaan, antrean sepeda motor cenderung lebih terlihat dibandingkan kendaraan roda empat,” jelas Samsudin.
Sebelumnya, Pertamina telah menyalurkan 7.600 kiloliter BBM ke wilayah Lombok dalam dua tahap pengiriman pada 3 Agustus 2026 untuk mengantisipasi kelangkaan. Meski distribusi telah dilakukan, antrean kendaraan di SPBU terpantau masih terjadi di berbagai titik.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis



