Hujan Tak Kunjung Turun, 9 Daerah di NTB Berstatus Awas Kekeringan

Mataram, Lingkar.news – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berada dalam status awas kekeringan meteorologis. Penetapan ini dilakukan seiring dengan periode hari tanpa hujan yang semakin panjang di wilayah tersebut.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menegaskan bahwa fenomena kekeringan meteorologis ini meluas ke sebagian besar wilayah di NTB.

“Hanya Kota Mataram yang saat ini belum masuk status awas kekeringan karena masih level siaga, sedangkan sembilan daerah lainnya sudah berada di level awas kekeringan meteorologis”, kata Suci Agustiarini, Senin (31/8/2026)

Suci merinci bahwa daerah yang masuk dalam kategori awas kekeringan meliputi Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima, dengan total cakupan mencapai 38 kecamatan.

Ia menambahkan bahwa kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) saat ini berada pada kategori sangat panjang, yakni rentang 31 hingga 60 hari, bahkan mencapai kategori kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari.

HTH berturut paling panjang tercatat di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem, jelas Suci.

Terkait prakiraan cuaca dalam waktu dekat, Suci menjelaskan bahwa peluang terjadinya hujan di seluruh wilayah NTB sangat minim.

Pada dasarian I September 2026 atau dari tanggal 1 sampai 10 September, potensi hujan di seluruh wilayah NTB sangat kecil dengan peluang kurang 10 persen, ujar Suci.

BMKG menyimpulkan bahwa meluasnya status awas kekeringan ini dipicu oleh fenomena El Nino yang berada pada kategori sangat kuat, dengan indeks Nino3.4 sebesar +2,99 derajat Celcius yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. Selain itu, Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga turut memperparah kondisi kemarau yang telah berlangsung selama delapan hingga sembilan bulan. Menyikapi hal tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih guna mengantisipasi krisis yang lebih luas.

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis