Teguh Santosa di Komite 4 PBB: Sahara Maroko Alami Kemajuan Pesat

JAKARTA, Lingkar.news — Direktur Geopolitik GREAT Institute sekaligus akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teguh Santosa, membeberkan keberhasilan pembangunan serta kemajuan di Sahara Maroko dalam sidang Komite 4 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi dekolonisasi.

Kehadirannya sebagai petisioner menegaskan bahwa hak atas pembangunan di kawasan tersebut telah terwujud secara nyata.

Teguh menyampaikan pandangannya di hadapan lebih dari 100 petisioner lainnya.

Ia menekankan bahwa hak atas pembangunan bukan sekadar konsep abstrak, melainkan hak asasi fundamental yang tercermin dari transformasi pesat sejumlah kota seperti Laayoune dan Dakhla melalui platform New Development Model.

“Saat berkunjung ke Dakhla pada Agustus 2024, saya menyaksikan sendiri besarnya kemajuan ini. Bukti nyata komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup warga secara berkelanjutan,” ujar Teguh, mengutip pernyataannya, belum lama ini.

Lebih lanjut, ia memaparkan sejumlah capaian konkret di lapangan, mulai dari pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan tol Tiznit–Dakhla dan Pelabuhan Atlantik Dakhla, hingga investasi masif pada energi terbarukan dan fasilitas desalinasi air.

Selain infrastruktur, integrasi kawasan ini turut diperkuat oleh tingginya partisipasi politik masyarakat, dengan angka voter turnout di Provinsi Selatan mencapai 60 hingga 80 persen pada pemilu lalu.

Proses demokratisasi ini juga ditandai dengan penunjukan Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Kepala Pemerintahan.

Berbagai capaian tersebut mendasari pandangan Teguh bahwa Resolusi Dewan Keamanan PBB 2797 (2025), yang mendukung Rencana Otonomi di bawah kedaulatan Maroko, harus menjadi panduan utama penyelesaian politik yang langgeng.

Dukungan internasional ini kian dikukuhkan oleh pembukaan berbagai konsulat jenderal asing di Laayoune dan Dakhla serta dukungan lebih dari 130 negara anggota PBB.

Sebelumnya, wilayah Sahara Maroko memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari teritori Kerajaan Maroko sebelum dikuasai Spanyol pada 1912 hingga kembali ke pangkuan kerajaan usai Spanyol menarik diri pada 1975.

Jurnalis: Lingkar.news Network

Editor: Asih