Mataram (LINGKAR.NEWS) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, melakukan uji coba sistem pengolahan sampah organik menggunakan “tempah dedoro” atau tempat sampah khusus sampah organik. Inisiatif ini merupakan upaya penanganan sampah secara mandiri.
Kepala DLH Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, pada Jumat, mengungkapkan bahwa uji coba sistem “tempah dedoro” telah dilaksanakan di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram.
“Di lingkungan tersebut, kami sudah membuatkan 25 unit ‘tempah dedoro’ dan sudah berjalan sekitar 2 bulan terakhir,” kata Nizar.
Ia melanjutkan, hasil evaluasi pelaksanaan uji coba menunjukkan bahwa volume sampah organik yang dibuang masyarakat di Lingkungan Marong Karang Tatah telah berkurang secara signifikan.
Dari volume sampah harian sebanyak 180 kilogram, kini hanya 80 kilogram yang dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS). Sebanyak 100 kilogram sampah warga di lingkungan itu merupakan sampah organik yang sudah langsung dibuang ke dalam “tempah dedoro” dan diolah menjadi pupuk organik.
“Pupuk organik yang dihasilkan warga, dapat dimanfaatkan untuk memberi nutrisi pada tanaman di pekarangan rumah warga,” ujarnya.
Sistem pengolahan sampah melalui “tempah dedoro” itu dibuat menggunakan buis beton dengan penutup serta dilengkapi lubang untuk membuang sampah organik. Melalui wadah ini, masyarakat dapat mengolah sampah organik secara mandiri di rumah atau lingkungan masing-masing.
Untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, masyarakat bisa menyemprotkan cairan EM4 untuk mempercepat penguraian. Selain itu, penggunaan air bekas cuci beras juga dapat dimanfaatkan karena mudah didapatkan.
“Setelah sampah organik terurai, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman,” jelasnya.
Dengan keberhasilan uji coba ini, DLH Mataram saat ini sedang menyiapkan program serupa untuk 50 kelurahan lainnya se-Kota Mataram. Tahap awal pengembangan program “tempah dedoro” akan difokuskan satu kelurahan satu lingkungan, sehingga ke depan ditargetkan 50 lingkungan akan memiliki sistem ini.
Secara keseluruhan, DLH menargetkan sebanyak 325 lingkungan se-Kota Mataram dapat memiliki pengolahan sampah dengan sistem ‘tempah dedoro’. Hal ini diharapkan menjadi solusi penanganan sampah sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Apalagi volume sampah sehari di Kota Mataram yang mencapai 220-230 ton, sebagian besar atau 60 persen merupakan sampah organik,” ungkap Nizar.
Sementara itu, 40 persen sisanya adalah sampah anorganik yang juga bisa diolah menjadi batako di TPST modern Sandubaya dan Mataram Maggot Center. Terkait pengembangan “tempah dedoro”, pihak DLH akan segera berkoordinasi dengan aparat kelurahan dan lingkungan.
“Untuk lingkungan sempit, ‘tempah dedoro’ bisa dibuat di jalan karena ‘tempah dedoro’ dapat berfungsi sebagai resapan air,” tambahnya.
DLH berharap, program “tempah dedoro” dapat menjadi solusi penanganan sampah perkotaan yang ramah lingkungan di Kota Mataram. (anta/red)



