JAKARTA, Lingkar.news – Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, menilai dampak banjir yang terjadi di wilayahnya pada akhir November 2025 melebihi saat tsunami. Namun, menurutnya pemerintah tak begitu memberikan atensi.
Ismail menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana Sumatra yang digelar di Aceh pada Selasa, 30 November 2025.
“Maka saya bilang bencana di Aceh Utara lebih dari pada tsunami, karena dari hulu sampai ke hilir,” ujarnya.
Namun, Ismail mengaku kecewa. Menurutnya, pemerintah minim perhatian dan tutup mata terhadap bencana yang terjadi hanya karena kondisi di wilayahnya tidak terekspos atau viral sehingga perhatiannya tidak sampai ke daerah.
“Rumah masyarakat semua hanyut. Di hilir, kampung-kampung dibuat muara baru. Satu kampung lima muara baru, tujuh muara baru. Semua rumah tidak ada lagi. Tapi, pusat kayaknya tutup mata akibat kami tidak ada sinyal HP dan mati lampu, makanya tidak viral. Mungkin itu alasan tidak hadir,” tuturnya.
Ismail mengungkapkan dari 27 kecamatan yang ada di Aceh Utara, 25 diantaranya terdampak banjir dengan kondisi listrik mati dan jaringan komunikasi pun lumpuh.
Ia mengakui sempat menangis meminta agar pemerintah mengirimkan pesawat untuk menyalurkan bantuan logistik ke tempat-tempat terisolir.
Dia pun menyinggung ingin pemerintah dan pemangku-pemangku kepentingan hadir di lokasi bencana melihat kondisi masyarakatnya.
Selain itu, Ismail berbicara bahwa Presiden Prabowo Subianto maupun Wakil Presiden ke Aceh Utara belum ada berkunjung ke Aceh Utara sejak bencana melanda.
“Mungkin di Aceh Utara, selama ini Pak Presiden selalu ke Tamiang dan Takengon, Aceh Tengah dan juga hadir di Pidie Jaya. Termasuk Pak Wakil Presiden. Tapi kami sampai kemarin belum,” ucapnya.
Editor: Ulfa Puspa



