JAKARTA, Lingkar.news – Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, merespons wacana pengembalian sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD. Menurutnya, perubahan tersebut bukan solusi tepat untuk persoalan Pilkada saat ini.
Firman menegaskan bahwa Pilkada langsung masih dapat dipertahankan dengan sejumlah langkah strategis agar lebih efisien dan berintegritas, tanpa harus mengubah mekanisme pemilihannya menjadi tidak langsung.
E-Voting Jadi Solusi Efisiensi Anggaran
Salah satu solusi utama yang ditawarkan Firman adalah penerapan sistem pemungutan suara elektronik atau e-voting. Dengan sistem ini, pemerintah tidak lagi membutuhkan anggaran besar untuk bilik suara, tempat pemungutan suara, hingga saksi.
Penggunaan teknologi digital dinilai mampu memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi beban terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sekaligus mempersempit ruang praktik politik uang.
“Money politics itu saya kira salah satu hal yang bisa kita selesaikan kalau memang kita punya komitmen nasional yang kuat untuk bersama-sama secara kolektif memberantas praktik tersebut,” kata Firman, Jumat (16/1/2026).
Minimalkan Politik Uang, Bukan Ubah Sistem
Firman menilai Pilkada dapat berjalan lebih efisien apabila pemerintah serius meminimalisasi praktik money politics. Dengan demikian, calon kepala daerah tidak lagi terbebani biaya besar untuk memengaruhi pemilih.
“Tapi sekali lagi bukan berarti Pilkadanya menjadi tidak langsung. Itu namanya ‘salah obat’,” tandasnya.
Pendidikan Politik Partai Perlu Diperkuat
Alih-alih mengubah sistem Pilkada, BRIN menilai pemerintah seharusnya memperkuat regulasi yang mendorong partai politik melakukan pendidikan politik secara berkelanjutan kepada masyarakat.
Langkah tersebut dinilai krusial agar pemilih lebih objektif dalam menentukan pilihan berdasarkan kualitas, rekam jejak, serta visi dan misi calon pemimpin.
“Rakyat bisa lebih objektif dalam memilih pemimpinnya dan tak lagi bisa diperdaya money politics,” tutur Firman.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki



