Antisipasi Kemarau 9 Bulan, Pemprov NTB Siapkan Sumur Bor hingga Optimalisasi Lahan

MATARAM, Lingkar.news Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan sejumlah skenario untuk menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun ini yang diperkirakan berlangsung hingga sembilan bulan ke depan.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan langkah antisipasi telah dilakukan sejak dini, mulai dari penguatan pasokan air bersih hingga strategi menjaga produksi pertanian melalui optimalisasi lahan.

“BPBD sudah siap dari beberapa bulan lalu. Kami sudah siapkan, mulai dari sumur bor dan kendaraan-kendaraan tanki untuk memasok air,” ujarnya saat ditemui usai menghadiri halalbihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, Rabu (15/4/2026).

Iqbal berharap prediksi musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino tidak sepenuhnya terjadi. Ia berkaca pada kondisi tahun sebelumnya, ketika perkiraan kemarau tidak berlangsung lama karena hujan datang lebih cepat.

Pemprov NTB juga telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga produksi pangan tetap stabil selama periode kemarau. Program optimalisasi lahan di kawasan tadah hujan menjadi salah satu strategi utama dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Pada 2025, pemerintah mengalokasikan sekitar 14.000 hektare lahan untuk program optimalisasi tersebut. Program ini bertujuan meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali panen menjadi dua kali panen dalam setahun.

“Selama irigasi masih berfungsi dengan baik, insya Allah kami bisa memitigasi paling tidak supaya jangan terjadi kelangkaan suplai air untuk pertanian,” kata Iqbal.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di NTB diperkirakan berlangsung selama 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan.

Awal musim kemarau diperkirakan dimulai pada April 2026, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026 yang berpotensi melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.

Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan penyuluh pertanian serta asosiasi pekasih yang berperan dalam pengaturan distribusi air di tingkat petani, guna mengarahkan pola tanam agar tetap sesuai dengan kondisi ketersediaan air.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki