BRIDA NTB Matangkan Ekosistem Riset untuk Hilirisasi Produk Unggulan Daerah

Mataram, Lingkar.news – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mematangkan penguatan Rumah Inovasi Daerah sebagai pusat hilirisasi riset. Langkah ini bertujuan agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi inovasi aplikatif yang memberikan nilai tambah signifikan bagi produk-produk unggulan daerah.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan fasilitas tersebut menjadi ruang kolaborasi yang menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, serta potensi produk daerah.

“Pembahasan lanjutan yang berlangsung hari ini menghasilkan sejumlah tindak lanjut, terutama pemenuhan data teknis, pemetaan potensi produk daerah, serta penguatan skema pendanaan dan kemitraan,” ujar Aryadi di Mataram, Kamis (27/8/2026).

Aryadi menuturkan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari penyempurnaan makalah kebijakan BRIN mengenai Rumah Inovasi Daerah NTB yang saat ini telah mencapai tahap sekitar 80 persen dan tengah memasuki proses review eksternal.

Selain fokus pada kebijakan, BRIDA NTB telah menyiapkan tiga proposal riset di sektor pengolahan pangan, air bawah tanah, dan kelautan, sekaligus menyiapkan fasilitas inkubasi bagi IKM, UMKM, kelompok tani, dan komunitas untuk mengolah produk lokal.

“Penguatan Rumah Inovasi Daerah bertumpu pada kolaborasi multipihak,” tegas Aryadi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teknologi pengolahan air nira segar hasil kolaborasi dengan Universitas Mataram yang mampu memperpanjang masa simpan air nira dari 4-5 jam menjadi 40 hari dengan tetap mempertahankan kesegaran produk.

Aryadi menilai inovasi tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui skema kerja sama dan dimanfaatkan sebagai produk lokal pendukung sektor pariwisata, termasuk untuk kebutuhan kegiatan berskala besar di NTB.

Secara keseluruhan, Pemprov NTB bersama BRIN berupaya membangun ekosistem yang mengintegrasikan riset, teknologi, dunia usaha, dan perguruan tinggi agar hasil penelitian mampu memberikan nilai ekonomi serta keberlanjutan bagi masyarakat.

Ketua Tim Penguatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah Berbasis Sektor Prioritas Pembangunan, Nora Sulastri, menyatakan perlunya dukungan data dan komitmen pemerintah daerah untuk menyukseskan agenda strategis seperti pengembangan teknologi sea water reverse osmosis (SWRO), pemetaan sungai bawah tanah, dan teknologi iradiasi.

Menurut Nora, pengembangan teknologi SWRO memerlukan pematangan terkait kesiapan lahan, dukungan operasional, serta pemeliharaan agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa untuk pemetaan sungai bawah tanah membutuhkan data teknis yang akurat, sementara pengembangan iradiasi memerlukan pemetaan potensi produk serta komunitas yang spesifik membutuhkan layanan tersebut.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis