Potensi Untung Tambah Rp2 Juta per Ekor, Peternak NTB Beralih ke Sapi Eksotik

Mataram, Lingkar.news – Budidaya sapi eksotik atau sapi ras luar Indonesia kini menjadi primadona baru bagi peternak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB menyebut tingginya permintaan pasar dan potensi keuntungan yang jauh lebih besar menjadi pendorong minat tersebut.

Kepala Disnakeswan NTB Muhammad Riadi mengatakan, sejumlah peternak di berbagai kabupaten/kota mulai melirik pengembangan sapi Brahman Cross, Simental, Limosin, hingga Belgian Blue. Jenis-jenis sapi tersebut memiliki potensi peningkatan bobot badan harian lebih tinggi dibandingkan sapi lokal Bali.

“Sudah banyak. Peternak yang memang bergerak di bidang penggemukan dan pengembangan ternak, rata-rata mulai menyukai sapi eksotik,”

Hal itu disampaikan Riadi di Mataram, Selasa (3/11/2026). Ia menjelaskan, pengembangan sapi eksotik di NTB dilakukan melalui pemeliharaan murni maupun persilangan dengan sapi Bali untuk menghasilkan keturunan dengan potensi pertumbuhan bobot badan lebih optimal.

Sebaran Sapi Eksotik di Lombok dan Sumbawa

Pengembangan sapi eksotik saat ini telah menjangkau Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Lombok menjadi wilayah dengan pengembangan terbanyak, disusul Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Sejumlah peternak di Kabupaten Bima dan Dompu juga mulai mengembangkannya.

“Di NTB sudah ada. Di Dompu ada, Bima ada, KSB juga ada. Tetapi yang paling banyak di Lombok, kemudian baru di KSB, kalau angka jumlahnya kita belum dapat pastikan,”

Menurut Riadi, keunggulan utama sapi eksotik terletak pada kemampuan pertumbuhan bobot badan harian (PBBH). Sapi Bali secara potensi genetik memiliki pertumbuhan maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari, sedangkan sapi eksotik tertentu mampu mencapai 1,5 kilogram per hari dengan dukungan pemeliharaan dan pakan yang tepat.

“Potensi genetik-nya maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari. Tetapi sapi eksotik bisa mencapai 1,5 kilogram per hari. Selisih 0,5 kilogram itu yang menjadi keuntungan peternak,”

Potensi Keuntungan Tambahan Rp2 Juta per Ekor

Riadi menyatakan, selisih bobot tersebut berdampak langsung pada nilai ekonomi ternak. Dengan harga sapi hidup yang disebut berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, pertambahan bobot badan dinilai memberikan nilai ekonomi cukup besar.

Potensi keuntungan tambahan dalam satu siklus penggemukan bisa mencapai sekitar Rp2 juta per ekor.

“Kalau dihitung, kenaikan berat badan harian dikalikan harga per kilogram berat hidup, itu menjadi keuntungan tambahan bagi peternak,”

Selain pertumbuhan bobot badan harian yang tinggi, sapi eksotik memiliki potensi bobot badan besar. Dalam kontes ternak yang digelar di Barabali, Lombok Tengah, terdapat sapi dengan bobot mencapai sekitar 1,3 ton.

Meski pengembangannya terus meningkat, budidaya sapi eksotik di NTB masih perlu diperkuat, terutama melalui pembinaan peternak, pengembangan bibit, dan pola pemeliharaan.

Disnakeswan NTB melihat komoditas tersebut sebagai salah satu peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan peternak daerah.

“Pengembangan sapi eksotik diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas populasi ternak dan memperkuat sektor peternakan NTB ke depan,”

Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis