Dompu, Lingkar.news – Kementerian Pertanian mendukung peremajaan tanaman jambu mete seluas 754 hektare di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 2026. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus memperkuat pendapatan petani.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu Assyadat mengatakan, program tersebut dialokasikan bagi kelompok tani dengan dukungan benih, pupuk, dan pendampingan teknis.
“Kita dapat 754 hektare untuk peremajaan mete yang dialokasikan bagi kelompok tani di wilayah empat kecamatan yakni Pekat, Kempo, Manggelewa dan Pajo,”
Hal itu disampaikan Assyadat kepada awak media di Dompu, Jumat (30/10/2026).
Peremajaan Jambu Mete Menjangkau Empat Kecamatan
Assyadat merinci, alokasi peremajaan di Kecamatan Pekat mencapai 377,1 hektare yang berada di Desa Nangamiro dan Kadindi. Sementara itu, Kecamatan Kempo mendapat alokasi 117 hektare di Desa Tolo Kalo dan Songgaja.
Di Kecamatan Manggelewa, peremajaan mencakup 210 hektare yang tersebar di lima desa, yakni Kampasi Meci, Tanju, Banggo, Sukadamai, dan Naga Tumpu. Adapun alokasi di Kecamatan Pajo seluas 49,9 hektare berada di Desa Woko.
Program peremajaan tersebut melibatkan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya. Menurut Assyadat, kelompok tani calon penerima masih dalam tahap melengkapi dokumen.
“Saat ini, kelompok tani calon penerima masih melengkapi persyaratan administrasi sebelum pelaksanaan kegiatan,”
Ia menjelaskan, peremajaan diperlukan karena sebagian tanaman jambu mete di Dompu sudah berusia tua sehingga produktivitasnya menurun. Gangguan penyakit dan terbatasnya peremajaan juga menjadi tantangan dalam mempertahankan hasil panen petani.
Jambu mete sebelumnya menjadi salah satu komoditas perkebunan andalan Dompu, terutama di sejumlah kawasan transmigrasi. Penurunan produktivitas kebun membuat pengembangan komoditas ini membutuhkan pembaruan tanaman dan perbaikan pengelolaan.
Di sisi lain, sebagian petani beralih menanam komoditas musiman, termasuk jagung, yang dapat memberikan hasil dalam waktu relatif lebih singkat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi keberlanjutan perkebunan jambu mete yang membutuhkan waktu hingga tanaman kembali menghasilkan.
Pendampingan dan Diversifikasi Pendapatan Petani
Assyadat berharap peremajaan dapat mengembalikan produktivitas kebun sekaligus memperkuat posisi jambu mete sebagai salah satu sumber pendapatan petani di Dompu.
Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh penanaman bibit baru, tetapi juga pemeliharaan hingga tanaman memasuki masa produktif. Karena itu, pendampingan teknis menjadi bagian penting dalam pelaksanaan peremajaan.
“Selama tanaman jambu mete belum menghasilkan, petani dapat memanfaatkan lahan untuk menanam komoditas sela yang sesuai dengan kondisi setempat. Langkah tersebut dapat membantu menjaga sumber pendapatan selama masa pertumbuhan tanaman,”
Pemanfaatan lahan juga berpeluang dipadukan dengan usaha peternakan apabila kondisi kebun dan kemampuan petani mendukung. Diversifikasi usaha diharapkan membantu petani mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
Pemerintah daerah berharap dukungan peremajaan ini dapat mendorong pengelolaan perkebunan jambu mete secara berkelanjutan. Dengan tanaman yang lebih produktif dan pemeliharaan yang baik, komoditas tersebut diharapkan kembali memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi petani.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis



